Facebook

Senin, 11 Juni 2012

Satu Ayah Lebih Dari Seratus Guru


Sosok-sosok ayah yang ditampilkan dalam “7 Kisah Mengharukan Superdad” di On The Spot malam ini begitu menyentuh hati. Pengorbanan para ayah yang tak kenal lelah di saat anak-anak mereka hampir menyerah, rela memberikan seluruh kebahagiaan mereka demi kebahagiaan anak-anaknya, bahkan rela mengorbankan nyawa mereka sendiri demi menyelamatkan sang anak. Pantas jika anak-anaknya menganggap mereka sebagai pahlawan dalam hidupnya.

Kisah-kisah yang menyentuh itu mengingatkan saya pada bapak di rumah. Sikap dan kata-katanya yang tegas dan keras, tak akan bisa menutupi kelembutan dan kebaikan hatinya :). Waktu kecil saking khawatirnya dengan putri manjanya yang satu ini, dalam beberapa hal saya selalu dilarang melakukan ini-itu, apa pun diprotek termasuk masalah pertemanan. Karena pengekangan itu saya jadi “pemberontak cilik” yang diam-diam melanggar larangan-larangan tak tertulis dari kebijakan sang Kepala Keluarga, tapi ujung-ujungnya selalu ketahuan juga sih dan saya pun selalu mendapat hukuman. Hukuman yang saya dapatkan masih tergolong level tiga—dari sepuluh level—dibandingkan dengan saudara saya yang dijeburkan ke dalam bak besar berisi ikan lele yang siap mematil kapan saja oleh ibunya gara-gara sama-sama tidak mau mengaji :D.

Menginjak bangku SMP, bapak akhirnya mengajarkan kebebasan dan kemandirian dengan mengirimkan saya ke pesantren. Ia ingin menanamkan pemahaman tentang agama Islam sebagai pondasi yang kuat sebelum memberikan saya kebebasan, agar saya tidak menggunakan kebebasan dengan seenaknya. Dan sikap bapak yang saya pikir terlalu mengekang, pada akhirnya saya sadari sebagai pertahanan dan perlindungan terhadap putrinya yang katanya kelewat lugu ini, hoho...

Meskipun begitu tidak selamanya keinginan saya selalu sejalan dengan keinginan bapak. Sikap keras bapak yang menurun pada saya membuat kami sering berdebat dan saling tak mau mengalah, termasuk saat saya memilih organisasi di kampus. Bapak menginginkan saya masuk ke organisasi-organisasi yang berbau politik, kalau tidak ya minimal semipolitik. Sedangkan saya memilih masuk organisasi yang sesuai dengan cita-cita saya sebagai wartawan. Perasaan berat hati karena tidak bisa mengikuti keinginan bapak, saya tuangkan ke dalam puisi:

Wajar saja memang jika bapak bersikap seperti itu, karena sebagai anak pertama, bapak menaruh banyak harapan kepada saya. Dan meskipun bertentangan, saya tetap meyakini apa yang dilakukan bapak semata-mata hanya untuk memberikan yang terbaik buat putrinya ini.

Pada tanggal 7 Juli 2010 saya menulis status di facebook seperti ini:

Bapak saya mengomentari:


Sampai sekarang saya masih memikirkan tentang perasaan bapak, karena pada akhirnya saya benar-benar pergi. Mungkin karena saya perempuan, bapak menginginkan saya tinggal tidak jauh dari rumah sehingga tetap bisa dipantau. Tapi saya tahu beliau melepaskan saya dengan sedikit kebanggaan, bukan dengan perasaan kecewa. Dan saya pun bertekad tidak akan pernah mengecewakan beliau, ya meskipun kita tetap sering bertentangan :D :D :D.


Setiap ayah diam-diam selalu menginginkan putranya berhasil. 
Kukira itulah sebabnya George Herbert menulis, 
“Satu ayah lebih dari seratus guru.”
_The Lessons_

(AKLmn, 11 Juni 2012)

Kamis, 07 Juni 2012

Aku Pernah Punya Cita-cita Hidup Jadi Petani Kecil

"Aku pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil.
Tinggal di rumah desa dengan sawah di sekelilingku.
Luas kebunku sehalaman kan kutanami buah dan sayuran.
Dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam  peliharaan.
Aku pasti akan hidup tenang jauh dari bising kota yang kering dan kejam.
Aku akan turun berkebun mengerjakan sawah dan ladangku sendiri.
Dan menuai padi yang kuning emas dengan istri dan anakku"
_Ebiet G. Ade_ 


Lagu “Cita-cita Kecil si Anak Desa” dari Ebiet G. Ade ini mengingatkan saya pada mimpi-mimpi kecil saya dulu. Waktu SMA saya sangat kecanduan main "Harvest Moon". Kalau libur sekolah, dari pagi sampai kembali pagi lagi saya sanggup bermain game ini. Segala hal yang ada di game ini begitu amazing buat saya. Mengingatkan saya akan masa-masa kecil saya dulu. Saya jadi terobsesi ingin hidup di tempat yang mirip dengan game ini. Rumah di daerah pegunungan, dikelilingi pohon-pohon, sawah-sawah, kebun-kebun, pantai, hewan-hewan peliharaan, dan tetangga-tetangga yang begitu baik. Bebas dari kebisingan dan polusi kota.

Kamis, 31 Mei 2012

Pelajaran Hidup dari Semut

Foto karya Andrey Pavlov




Foto karya Andrey Pavlov


Pernah lihat foto-foto karya Andrey Pavlov yang bertema “The fantasy world of ants” di situs Yahoo??? Di sana terlihat foto-foto semut yang begitu kuat mengangkat ranting seorang diri, bekerja sama mengangkat tomat, dan sedang menolong sesamanya. Begitu banyak pelajaran tentang hidup yang bisa kita contoh dari makhluk mungil ini. Hingga Al-Qur’an pun memuliakan makhluk ini di dalam salah satu suratnya yang bernama An-Naml yang berarti semut. 

Dalam surat An-Naml ayat 23 disebutkan: "Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari." (QS. An-Naml, 23: 18). Dari ayat tersebut dapat dipahami tentang adanya sistem komunikasi yang baik di antara semut yang terbiasa hidup bermasyarakat dan berkelompok itu.

Rabu, 30 Mei 2012

Pancasila vs Negara Islam Indonesia

NII (Negara Islam Indonesia) adalah salah satu gerakan dengan latar belakang yang memiliki kaitan dengan paham sekularisme. Mengutip dari situs Wikipedia Indonesia, dalam istilah politik, sekularisme adalah suatu pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan agama negara, menggantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama. Hal ini dikatakan menunjang demokrasi dengan melindungi hak-hak kalangan beragama minoritas.

Negara Islam Indonesia (disingkat NII : dikenal juga dengan nama Darul Islam). Lahir sebagai bentuk pemberontakan atas ketidakpuasan terhadap Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia yang dicetuskan pada 18 Agustus 1945, dengan sebelumnya mencoret tujuh kata “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Padahal tujuh kata yang terdapat dalam butir pertama dari lima lima butir yang kelak menjadi Pancasila telah disetujui oleh pihak islam dan kaum kebangsaan (nasionalis) dan dirumuskan oleh panitia sembilan yaitu : Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A. A Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Muzakir, H. Agus Salim, Achmad Subardjo, Wachid Hasjim dan Muhammad Yamin pada 22 Juni 1945. Hasil kompromi tersebut terkenal dengan sebutan Piagam Jakarta. 

Selasa, 29 Mei 2012

Daftar Impian Saya

Rasanya geli saat membaca kembali tulisan di selembar kertas berwarna biru yang pernah saya buat lima tahun silam. Tulisan itu berisi daftar impian/cita-cita/target hidup saya saat memasuki awal perkuliahan, ya setiap tahunnya saat penerimaan mahasiswa baru di kampus saya, kami memang disuruh menuliskan daftar impian/cita-cita/target hidup pada lembaran kertas yang telah disediakan panitia. Seingat saya metode yang digunakan adalah Metode Daftar Impian Goddard dengan tujuan untuk mengelola hidup dan merencanakan masa depan.

Inilah beberapa daftar impian/cita-cita/target hidup saya:
  • Lulus S1 dalam waktu 3,5 tahun
  • Bekerja sebagai wartawan dan reporter
  • Mewujudkan keinginan orang tua dan keluarga
  • Mendirikan rumah kucing
  • Menikah sebelum berumur 25 tahun
  • Melanjutkan S2 ke luar negeri
  • Mempunyai banyak anak
  • Mendirikan sekolah gratis
  • Menerbitkan novel
  • Menjadi reporter internasional
  • Menjad pecatur profesional
  • Melanjutkan S3 ke luar negeri
Sampai sekarang saya masih merenungi apa yang sudah saya tulis itu, sambil bertanya-tanya, kok bisa sih saya menulis seperti itu??? Apalagi di awal-awal perkuliahan pikiran saya kan masih sangat polos . Kalau melihat apa yang sudah saya capai di hari ini rasanya mimpi hanya jadi sekadar mimpi, hehe... Bukan berarti pesimis sih, tapi apa yang saya lakukan beberapanya tidak mengarah ke daftar-daftar mimpi yang sudah saya tulis itu. Suatu kondisi yang tidak kita duga, kadang membuat planning kita pun harus ikut berubah. Tapi tentunya saya tetap berusaha mewujudkan apa yang bisa saya wujudkan saat ini dan untuk masa depan. Jadi, apa mimpimu untuk masa depan nanti?

(AKLmn, 29 Mei 2012)