Facebook

Selasa, 31 Mei 2016

Pernikahan

Akhir-akhir ini saya sedang merenungi sesuatu, mempertanyakan tentang kesiapan dan kemantapan hati saya untuk melangkah ke tahapan selanjutnya dalam perjalanan hidup alias menikah. Pertanyaan-pertanyaan dilematis ini muncul bukan tanpa sebab. Berawal dari perasaan bersalah yang timbul karena saya merasa “menyakiti” orang-orang baik yang menyatakan keseriusan dan niat baiknya untuk hubungan yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Hingga saya sadari ketegasan saya disalahpahami dan dianggap menyakiti, lalu menimbulkan berbagai opini dan sikap yang kurang mengenakan dari beberapa pihak. Meski sangat disesalkan, tapi tak bisa dihindari urusan hati memang bisa merenggangkan pertemanan bahkan merusak hubungan silaturahmi yang sudah terjalin dengan baik.

Ya, bertahan dengan status single di umur segini memang bukan hal yang mudah. Bukan juga hal yang menyenangkan. Banyak pandangan negatif yang harus kita terima. Telinga pun harus kebal dari perkataan-perkataan yang tidak menyenangkan, harus terbiasa disebut perempuan yang dingin, kejam, de el el el el. Wah … dikira ini hati terbuat dari besi kali ya *geleng-geleng kepala*. Ada yang menasehati, ada yang menggurui, ada yang memarahi, dan level yang paling menyebalkan adalah sok tahu dan mengasihani. Kadang saya tak habis pikir, mengapa orang-orang begitu mudah meng-judge dan menilai seseorang. Tapi apalah daya, saya tidak punya kekuatan dan kekuasaan untuk mengendalikan opini orang-orang yang terlalu peduli pada kehidupan saya.

Rabu, 24 Februari 2016

Tentang Cinta Masa Muda: Berteman Baik Dengan Mantan, Bisakah?



Indahnya cinta di masa muda. Sampai pada usia saya yang matang (masih belum terima kalau dibilang tua) saya baru dua kali merasakan jatuh cinta. Kalau untuk suka-sukaan mungkin lebih banyak lagi. Suka-sukaan yang wajar-wajar aja, misalnya karena orangnya shaleh, pintar, ganteng kayak Lee Min Ho, atau cool kayak Jet Li. Tapi, kalau untuk urusan cinta itu beda lagi. Bisa dibilang saya termasuk orang yang susah untuk jatuh cinta. Dan, parahnya susah move on juga. Saat merasa masih bisa memperbaiki sebuah hubungan meskipun hubungan yang saya jalani telah putus atau berpisah di tengah jalan, maka saya akan terus berusaha mempertahankan dan mencoba memperbaikinya sampai yakin kalau perpisahan itu memang layak terjadi. Layaknya berada di labirin, saya sering hanya berputar-putar di jalan yang sama. Hingga merasa lelah sendiri. Ya, memang sungguh melelahkan. Tapi, bukan berarti pada akhirnya saya tidak bisa move on, hanya proses move on-nya agak terlalu panjang, berliku, banyak drama, dan terlalu lebay.
Di masa muda yang labil, karena baru dua kali jatuh cinta, terkadang saya suka membanding-bandingkan keduanya. Kadang saya merasa si A lebih baik dari si B, di lain hari merasa si B lebih baik dari si A. Kadang saya juga merasa mencintai si A, lalu di lain hari merasa si B-lah yang sebenarnya saya cintai. Parahnya kadang saya pun merasa mencintai keduanya sekaligus (tiba-tiba ada back sound Ahmad Dhani nyanyi,  “Maafkanlah karena aku cinta kau dan dia”). Setidaknya saya tidak pernah berniat selingkuh atau mendua, ini murni lahir dari perasaan kecewa. Tapi, tetap jangan dicontoh ya, karena bisa membuat orang lain sakit hati.
Dua cinta, dua cerita, dan dua mantan. Keduanya sama-sama harus berakhir dengan perpisahan. Meski kejadiannya sudah lama berlalu, tapi tetap saja mereka pernah jadi orang-orang yang spesial dalam hidup saya. Maka, saya pernah mencoba agar bisa menjadi tidak sekadar teman biasa bagi mereka. Tapi, kenyataannya memang tidak semudah yang kita kira.

Kamis, 20 Agustus 2015

Curhat: Menjadi Dewasa

Ada kalanya seseorang itu berada di titik tersulit dalam hidupnya. Merasa tak berdaya, kehilangan kepercayaan diri, kehilangan semangat hidup, serba berat, dan kondisi-kondisi tidak menyenangkan lainnya, seolah-olah dunia sedang begitu kejam, memalingkan muka enggan bersahabat dan berjabat tangan. Sejujurnya itu yang sedang saya alami saat ini, tepatnya selama beberapa bulan ini. Bukan, bukan karena urusan perasaan. Ada masalah lain, masalah keluarga yang begitu pelik, yang tidak bisa saya detailkan di sini. Membuat saya begitu kecewa, marah, kesal, segala macam perasaan negatif berbaur. Hingga saya roboh dan terpuruk.

Pada dasarnya saya tipe orang yang tidak mau ambil pusing saat dihadapkan dengan permasalahan hidup. Saya selalu meyakini bahwa hanya waktu yang bisa membuat masalah itu berakhir dengan sendirinya. Tapi, tidak untuk kali ini. Meski selalu berusaha berbesar hati mengatakan pada diri sendiri, “Hei, masalah kamu itu baru segini aja, belum ada apa-apanya.”. Tapi, lebih sulit untuk berbohong dengan mengatakan, “Ya, saya baik-baik aja.”

Ya, masalah yang saya hadapi memang tidak sedramatis yang dialami teman-teman di sekitar saya. Ada teman saya yang harus menerima kenyataan pahit dari perceraian kedua orangtuanya. Ada yang begitu sakit hati karena ayahnya berselingkuh dengan wanita lain. Bahkan, yang paling miris ada teman saya yang diusir oleh ibu tirinya sekaligus keberadaannya tidak diterima baik oleh ibu kandungnya. Tidak, tidak separah itu. Tapi, saya menyadari kali ini saya terlalu tenggelam dengan permasalahan yang sedang saya hadapi. Hingga akhirnya saya sadari kawan-kawan terdekat terasa semakin jauh. Kadang saya pun merasa dijauhi. Mungkin ini efek karena saya terlalu terbawa perasaan, tapi saat menulis ini, jujur saya merasa kesepian, merasakan kekosongan. Saya rindu kebersamaan, candaan, dan rindu teman-teman. Maka, saya hanya bisa memaklumi, berusaha menerima, dan berintrospeksi diri.

Saya pun harus bersyukur. Ada kalanya seseorang harus mengalami hal-hal tersulit dulu untuk mengerti arti dewasa yang sesungguhnya. Saya mungkin memang harus dicambuk dulu untuk menjadi kuat dan menjadi orang yang lebih sabar. Juga jadi lebih banyak belajar untuk lebih bertanggung jawab dan mengambil peran dalam keluarga. Tidak egois, tidak merasa sudah banyak berkorban. Dan, tentunya ini tentang penerimaan, menerima apa pun yang terjadi di kondisi yang terbaik dan terburuk bersama-sama, dalam satu keluarga. Kini, perlahan-lahan saya mulai bangkit lagi. Dan, semoga hubungan saya dengan kawan-kawan pun membaik lagi.


(AKLmn, Agustus 2015)

Minggu, 31 Mei 2015

Lesehan Party

Di umur yang tak lagi muda, pembicaraan tentang pernikahan memang selalu jadi topik yang tidak basi-basi. Apalagi jika obrolan itu dilakukan bersama kawan-kawan senasib seperjuangan. Senasib, karena umurnya sama-sama akan menginjak kepala tiga tapi sama-sama jomblo. Seperjuangan, karena sama-sama sedang berikhtiar maksimal dalam mencari calon suami yang shaleh dan baik untuk kehidupan dunia dan akhirat, hehe…. Ditemani berbagai macam camilan, obrolan saya dan kawan-kawan pun mengalir dan rasanya tidak akan berakhir.
“Heh kalian, masa di antara kita belum ada yang menikah satu pun?” tanya seorang kawan, sebut saja namanya Mawar.
“Pokoknya saya harus nikah dua tahun lagi,” kata kawan lainnya, sebut saja namanya Melati.
“Semangat!” kata saya sambil menyembunyikan kesenduan. Mengingat-ingat jika umur saya sudah lewat dari planning yang sudah ditargetkan.
“Kalau kalian mau konsep pernikahan yang kayak gimana?” tanya Mawar lagi.
Melati cukup singkat menjawab, “Garden party,” katanya.
Berbeda dengan Melati, Mawar lebih heboh, secara detail dan antusias dia menceritakan konsep pernikahan idamannya. Bla … bla … bla ….
“Kamu, Nong?” tanya Melati yang diiringi tatapan menyelidik dari Mawar.
“Saya? Hmmm ….”
***

Selasa, 31 Maret 2015

Kucing Bermental Psikopat

 
Gambar diambil dari www.pixabay.com
Malam ini saya ga bisa tidur. Membayangkan bayi-bayi lucu itu mati secara sadis, rasanya dada ini sakit, menahan sedih sekaligus emosi. Ini bukan tentang bayi-bayi yang diaborsi orangtuanya akibat hamil di luar nikah. Bukan juga tentang bayi-bayi yang dibunuh sadis karena kelahirannya tidak diinginkan. Ini tentang bayi-bayi kucing yang baru beberapa minggu dilahirkan ke dunia. Bayi-bayi lucu anaknya si Lolli yang semuanya mati secara tragis.
Kejadiannya bermula dari beberapa hari yang lalu. Saat itu saya terbangun dari tidur siang gara-gara teriakan si Lolli. Saya sempat diam sesaat karena salah mengira kucing yang menghampiri anak-anaknya si Lolli itu si Putih (kucing betina lain yang ada di rumah). Biasanya si Putih memang suka melihat anak-anaknya si Lolli, lalu pergi begitu saja. Tapi, saya jadi histeris karena kucing putih itu membawa lari anak si Lolli. Spontan saya dan adik-adik saya berlari mengejar kucing putih itu. Tapi, terlambat. Kita hanya mendapati bayi kucing itu telah mati dengan darah yang terus mengalir dari lehernya. Sedih rasanya.
Semua orang rumah kecolongan termasuk saya gara-gara warna bulu kucing jantan itu sama persis dengan si Putih. Mirip banget. Dari depan, saya saja tidak bisa membedakan mana si Putih dan mana kucing jantan putih itu. Tapi, tak beberapa lama adik saya berhasil menangkap si kucing pembunuh itu. Meski kesalnya setengah mati, saya cuma sanggup memukul pelan kucing jantan itu dengan sapu lidi. Adik saya juga menyiramnya dengan air sedikit, karena sama-sama ga tega juga. Lalu, kami membiarkan kucing jantan itu pergi. Sesuatu yang akan kami sesali pada akhirnya.

Jumat, 08 Agustus 2014

Kecelakaan Motor di Mohammad Toha


Jumat, 11 Juli 2014

Allahu akbar…. Allahu akbar…. Tak terasa adzan Maghrib berkumandang menandakan waktu berbuka puasa. Beberapa pengendara motor di depan saya menepikan kendaraannya untuk berbuka atau sekadar minum. Sekilas melirik sebungkus kolak pemberian teman kantor. Ah, tapi tanggung, saya terus melajukan motor.

Hari ini sebenarnya saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak pulang malam lagi. Dua hari kemarin berturut-turut pulang malam saya merasakan “feel” yang berbeda. Rasanya jalanan begitu senyap, hening, seolah-olah hanya saya saja yang menerobos kegelapan gulita. Tanpa siapa-siapa. Tak ada siapa-siapa. Seorang diri. Tapi, apalah daya jalan Soekarno-Hatta yang begitu macet membuat waktu jarak tempuh menuju rumah jadi tak normal. Apalagi di jam-jam pulang kantor. Terpaksa saya harus menjadi ‘manusia nokturnal’ lagi.

Tiba-tiba hujan turun setelah saya melewati jalan Buah Batu. Beberapa pengendara motor di depan saya menepi untuk berteduh dan memakai jas hujan. Padahal saya juga menyimpan jas hujan di jok motor. Tapi dasar, lagi-lagi saya merasa tanggung dan malah menerobos hujan.

Hujan yang sesaat turun dan sesaat berhenti membuat perjalanan saya jadi sedikit tidak lancar. Saya sengaja menyalakan sen kiri berniat menepi, sekadar ingin mengusap kacamata yang buram terkena air hujan dengan tisu. Setiap berkendara malam, kaca helm saya yang berwarna hitam dan sudah tidak mulus lagi memang selalu terbuka, kalau tertutup jalanan jadi tidak terlihat jelas. Namun, jalanan menuju perempatan Mohammad Toha yang gelap dan sepi membuat saya urung menepi. Takut. Akhirnya, saya terus melajukan motor dengan penglihatan ekstra fokus berharap segera sampai ke rumah.

Senin, 14 Oktober 2013

Wanita Karier Harus Diingatkan Untuk Menikah

Tema tentang pernikahan sedang hangat-hangatnya dibahas di ‘dunia kecil’ saya: di rumah, kantor, antarsahabat, antarteman, komunitas, sosial media de el el. Saya yang sudah distempel usia yang katanya ‘sudah harus’ memikirkan tentang pernikahan mau tak mau akhirnya kepikiran juga. Awalnya ini seperti adaptasi yang dipaksakan. Apalagi jika obrolannya memicu perdebatan terutama menyangkut usia, karier dan kemapanan. Saya pun berusaha membiasakan hingga akhirnya kunjung terbiasakan.

Maka, dari obrolan yang biasa hingga ngalor-ngidul itulah saya jadi menyimpulkan, “Yang membuat perempuan menunda pernikahan adalah karier. Sedangkan, yang membuat laki-laki menunda pernikahan adalah kemapanan”. Quote ini berdasarkan pengamatan saya terhadap orang-orang di sekitar saja. Tanpa maksud untuk menggeneralisir. Tentunya bisa saja salah, bisa saja benar. Jadi tak perlulah ada perdebatan, hehe ….

Wedding

Sedikit bercerita. Dua tahun yang lalu ketika saya masih bekerja di penerbitan buku di Jakarta, bos saya yang seorang perempuan tiba-tiba membahas tentang pernikahan di sela-sela doa pagi yang rutin diadakan sebelum kami mulai bekerja. Saya lupa lagi dialognya, tapi dia mengingatkan kami terutama bawahannya yang perempuan untuk segera menikah. Dari obrolannya itulah saya baru menyadari ternyata eh ternyata rekan-rekan kerja saya yang perempuan satu pun belum ada yang menikah. Wow. Padahal usia mereka rata-rata sudah lebih dari 25 tahun bahkan ada yang sudah mau kepala tiga. Satu-satunya perempuan yang sudah menikah ya hanya bos saya itu.

Kamis, 29 Agustus 2013

Tommy, Donny, Donna dan Bella


Tommy, Donny, Donna dan Bella. Sekilas nama-nama itu cukup familiar di telinga kita. Memang mirip dengan nama-nama artis ibukota: Tommy Kurniawan, Donny Damara, Donna Agnesia, dan Bella Saphira. Tapi sebenarnya nama-nama itu adalah nama keempat kucing di rumah, nama pemberian dari adik-adik kecil saya yang imut-imut sekaligus amit-amit.

Photobucket

Awalnya saya sempat protes dengan nama-nama yang tidak kreatif itu. Sayangnya keempat kucing itu suka, bahkan manut kalau mereka dipanggil. Terutama si Bella, tiap adik saya manggil Bel ... Bel ....’ tuh kucing nyamperin sambil loncat-loncat kegirangan. Selain itu, saya juga kalah jumlah 1:6 dengan adik-adik perempuan saya, terpaksa saya pun harus membiasakan diri memanggil mereka dengan nama-nama yang gak banget itu. Dan akhirnya ya terbiasa.

Dari atas: Donny, Tommy, Bella, dan Donna

Keempat kucing itu sebenarnya tidak punya hubungan darah satu sama lain. Kecuali Tommy dengan Donny, lahir dari rahim kucing yang sama tapi dengan bapak dan waktu yang berbeda. Jadinya satu sama lain gak ada yang akur. Tiap hari tiada hari tanpa adegan Tom and Jerry. Heran ya, padahal mereka sudah lama tinggal satu atap. Yang paling kasihan itu si bungsu Bella, secara dia kucing kecil yang hobinya main. Akhirnya, saya dan adik-adik saja yang suka nemenin Bella main. Kalau kami sibuk dengan kegiatan masing-masing, saking gak punya teman, akhirnya Bella berteman akrab dengan ayam kecil milik Uwa. Hohoho... kebayang kan rumah saya hampir mirip kebun binatang. Dan FYI, baru kemarin adik-adik saya beli hamster, eh katanya sih dikasih temannya bapak, gak tanggung-tanggung empat ekor sekaligus. Padahal hamster kan makanan kucing juga.
milkysmile

Seperti kata pepatah, tak kenal maka ta’aruf (hihihi...), jadi biar saya ga nyerocos tentang kucing-kucing saya terus, lebih baik kenalan dulu lah sama kucing-kucing saya itu. Biar nantinya jadi sayang. Terutama untuk teman-teman saya yang anti kucing, dan menganggap makhluk paling lucu sedunia ini sebagai makhluk paling menyeramkan dan menakutkan:


Rabu, 31 Juli 2013

Lady’s First?


Jam tepat menunjuk ke angka lima. Saya cepat beres-beres, lalu pamit pada semua orang di kantor, dengan alasan yang klasik ‘Duluan ya, takut ketinggalan DAMRI nih’. Jika saya sedang beruntung mereka hanya akan tersenyum sambil berkata ‘Hati-hati di jalan’. Tapi, jika saya kurang beruntung, saya akan tertahan beberapa menit dengan runtutan pertanyaan.
 “Memang gak pulang ke kosan, Da?”
“Gak, ada perlu. Jadi harus pulang.”
“Mau ngapain gitu?”
Ngapain aja we (dalam hati)
“Terus besok ngantor?”
Ih kepo (dalam hati)
“Terus ...?”
“Terus ...?”
Ih kepo (dalam hati)
Ih kepo (dalam hati)

*Just kidding* 

Sabtu, 29 Desember 2012

Nyaris Jadi Korban di Dalam Angkot


(Diposting di catatan Facebook 16 Januari 2012 pukul 17:40, lupa belum diposting di Blog ) ·

Gambar diambil dari www.inilah.com

Lagi-lagi tindakan kriminal di dalam angkot terjadi di Bandung. Padahal baru tiga bulan yang lalu sopir angkot jurusan Elang-Abdul Muis, Ahmad Diningrat, dibunuh gara-gara menyelamatkan penumpangnya dari penjambret. Kali ini nasib nahas menimpa Rahma Nurbaeti (43 tahun).  Ia harus dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin karena payudaranya ditembak saat ia berusaha  menyelamatkan tasnya dari penjambret di dalam angkot jurusan Ciparay-Tegallega.

Kasus  yang terulang lagi ini menggambarkan betapa buruknya keamanan di dalam angkutan umum yang ada di Bandung. Mungkin sudah ada banyak korban yang sama seperti Ahmad atau pun Beti namun tak terekspos media. Saya sendiri pun nyaris menjadi korban, tapi nasib saya bisa dibilang lebih beruntung dibandingkan kedua korban yang saya sebutkan tadi.


Jangan Segan-Segan, Blokir!


Gambar ini diambil dari blog punya sendiri dengan template yang dulu

Jika Kurt Westergaard, kartunis Denmark mendapat reaksi keras dari seluruh muslim di dunia karena membuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad SAW. Juga Nakoula Basseley (Sam Bacile) yang dihukum atas pembuatan film Innocence of Muslims yang menghina Nabi Muhammad SAW dan membuat kemarahan seluruh umat Muslim dunia. Bagaimana dengan blog-blog pribadi yang berisi hal-hal yang serupa?

Tentu, kalau harus melaporkan para Blogger (pengguna blog) yang membuat postingan-postingan melanggar SARA (suku, ras, dan agama) agar mendapat hukuman kurungan penjara atau sanksi sosial atas pelanggaran mereka rasanya memang sulit, karena di dunia maya tidak terhitung banyaknya blog yang seperti itu. Tapi sebagai pengguna internet yang baik (cieee) kita juga bisa ikut “membasmi” blog-blog yang postingannya memang sengaja digunakan untuk melecehkan suku, ras atau agama tertentu dengan cara memblokir blog tersebut dan mengajak teman-teman agar ikut memblokir blog itu juga sehingga bisa ditindaklanjuti oleh penyedia layanan.

Rabu, 08 Agustus 2012

Media Online, Menyajikan Informasi Dalam Hitungan Menit


Saya: Pasar Cijerah kebakaran?
Hasna: Nya, ai Teh Ina teurang ti saha? (Iya, Teh Ina tahu dari siapa?)
Saya: Kan gaduh indera keenam   (Kan punya indera keenam)
Hasna: Hahaha

Itulah percakapan saya dan adik saya via SMS beberapa jam yang lalu. Saya sebetulnya geli juga membaca pertanyaan polos adik saya yang baru menginjak kelas 1 SMP itu, gkgkgk... Tapi maklum, umur segitu kalau berhubungan sama internet palingan cuma main facebook, main games-games mini di y8.com atau sekadar bertanya pada Om Google jika sedang ada PR dari sekolah saja :D.

Lantas dari mana saya bisa tahu? Karena punya indera keenam? Hahaha... Ya, itu tentunya karena perkembangan media online saat ini yang semakin pesat dengan kecepatan informasinya yang melebihi media cetak bahkan media elektronik sekali pun. Apalagi di dunia modern saat ini, orang-orang butuh segala sesuatu yang serba cepat termasuk dalam hal informasi. 

Senin, 06 Agustus 2012

Praktik Pengemis Palsu di Bulan Ramadhan

Momen Ramadhan sebagai momen yang baik untuk beramal dan memperbanyak pahala kerap kali dimanfaatkan para pengemis palsu untuk mengumpulkan kepingan rupiah demi rupiah untuk mempertebal kantong mereka. Mereka datang dari sejumlah daerah-daerah dan  menyebar ke kota-kota besar di seluruh wilayah Indonesia. Tak heran setiap tahunnya di bulan Ramadhan, jumlah pengemis di kota-kota besar selalu meningkat tajam.

Beberapa kali pemerintah telah berupaya untuk menanggulangi para pengemis palsu ini. Di Jakarta sendiri, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Raya (Jaya) telah mengeluarkan peraturan daerah (Perda) Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3), salah satunya adalah dengan memberi sanksi hukuman berupa denda Rp 150.000 - Rp 300.000 atau hukuman kurungan selama dua bulan terhadap orang-orang yang tertangkap basah memberi sedekah kepada para pengemis di jalan raya atau di tampat-tempat umum.


Sabtu, 21 Juli 2012

Bismillah Untuk #MoveOn

Ketika ada rindu dan perasaan yang tidak sepantasnya yang harus segera diselesaikan #MoveOn

Seperti kisah hidup: saat tulisan sudah sampai di akhir paragraf, titik tanpa koma, novel pun selesai sudah #MoveOne

Saat merasa harus menghapus bayangan yang sudah lama terkunci di kedalaman hatimu dan pikiranmu #MoveOn

Untuk mengubur imaji-imaji semu seorang gadis pemimpi agar bisa melihat realitas #MoveOn

Juga meninggalkan senja penuh labirin untuk mendapati pagi yang lebih indah #MoveOn

Bukan hanya sudah mengetahui, tapi sekaligus sudah mengerti dan memahami bahwa ada sesuatu yang tak akan mungkin pernah kembali #MoveOn

Karena masa lalu adalah pelajaran hidup yang abadi sepanjang masa, dan setiap kenangannya adalah hal yang tak bisa kau lupa namun tak perlu juga diingat-ingat #MoveOn

Banyak orang yang sulit #MoveOn. Kenapa? Karena tekadnya setengah-setengah, ragu-ragu dan maju-mundur. Padahal diperlukan tekad sekuat baja dan hati yang sangat teguh

Perempuan punya caranya sendiri untuk #MoveOn, dengan memilih jeda waktu dan sebuah ruangan kecil yang tak tertembus oleh apapun.

Tapi sokongan dari sahabat-sahabat, itu yang paling bisa membantu untuk #MoveOn

Moment Ramadhan pun selain untuk mendekatkan diri pada-Nya juga bisa dijadikan moment memantapkan hati yang lebih ikhlas dan jiwa yang lebih tawadhu #MoveOn

#MoveOn bukan berlari atau menghindari, tapi memulai segala sesuatu yang baru. Jiwa yang baru, hati yang baru, semangat yang baru, catatan hidup yang baru

Sekaligus #MoveOn bisa menjadikanmu perempuan yang baru yang jauh lebih baik. Lebih bijak, lebih tegar dan lebih tangguh

Untuk memikul sebuah tanggung jawab yang harus diemban demi orang-orang yang lebih menghargai keberadaanmu #MoveOn

Dan tugasmu adalah memberikan hal yang terbaik untuk mereka #MoveOn

Bismillah untuk #MoveOn

(AKLmn, 21 Juli 2012)

Rabu, 11 Juli 2012

Foto-Foto Iseng: Edisi Masjid Agung Bandung



Bersama sahabat menikmati keramaian dengan segelas kopi


Kata siapa kerak telur cuma punya Jakarta? Hehehe ....


Mendung di sekitar Masjid Agung, Bandung


Anak laki-laki berbaju kuning beratraksi memainkan gelembung sabun


Seorang ibu yang sedang shalat dan anaknya yang asyik memainkan handphone


Foto-foto Iseng: Edisi Anak Laki-laki Berbaju Kuning dan Dua Gadis Penggemarnya


Sore yang ramai di sekitar Masjid Agung, Bandung. Sebelum hijrah ke ibukota, saya memang kerap kali menghabiskan waktu menikmati senja di tengah keramaian tempat ini. Tapi kali ini saya tidak sendirian, seorang sahabat dari Depok ikut menemani sambil menikmati secangkir kopi susu di tengah-tengah taman masjid.

Senang rasanya bisa mengamati beragam orang dengan beragam aktivitas. Dan wajah ceria anak-anak kecil yang berlari-lari ke sana ke mari. Ditambah lagi angin sejuk Kota Bandung yang saya yakini tidak akan pernah saya temukan sekembalinya lagi ke ibukota nanti, hehe..

Sore itu ada sesuatu hal yang membuat saya tertarik. Di tengah taman yang begitu ramai, dengan PD-nya seorang anak laki-laki berbaju kuning beratraksi memainkan gelembung sabun. Lucunya, di depan anak laki-laki itu ada dua gadis cilik yang ternganga saking terpesonanya melihat kelihaian si anak laki-laki itu dalam memainkan gelembung sabun. Ya meskipun atraksi yang ia tunjukkan gak sehebat Spongebob waktu ngajarin Squitquart belajar niup gelembung sabun dari mulai bentuk kupu-kupu, gajah sampai perahu besar (lagian kayaknya memang impossible banget , hoho... ). Yang bikin saya geli, si anak laki-laki yang tahu ada dua gadis yang begitu terpesona melihat atraksinya, bukannya malah kegeer-an atau malu-malu, dia malah semakin PD menunjukkan atraksinya yang lain. Dan gayanya itu loh... Gak nahan... Hahaha... ada-ada aja deh.

Iseng-iseng saya potret aksi anak laki-laki berbaju kuning itu dan dua gadis cilik penggemarnya (^_^). Ini foto-fotonya:

Rabu, 20 Juni 2012

Foto-Foto Iseng: Edisi Kota Toea

Lagi nunggu KRL (Kereta Rel Listrik) di Lenteng Agung, Jakarta Selatan

Baju pernikahan la Abang-None Jakarta
Statiun Lenteng Agung, Jakarta Selatan
Di Museum Sejarah Jakarta

Berasa pembaca teks proklamasi #eh 

Senin, 11 Juni 2012

Satu Ayah Lebih Dari Seratus Guru


Sosok-sosok ayah yang ditampilkan dalam “7 Kisah Mengharukan Superdad” di On The Spot malam ini begitu menyentuh hati. Pengorbanan para ayah yang tak kenal lelah di saat anak-anak mereka hampir menyerah, rela memberikan seluruh kebahagiaan mereka demi kebahagiaan anak-anaknya, bahkan rela mengorbankan nyawa mereka sendiri demi menyelamatkan sang anak. Pantas jika anak-anaknya menganggap mereka sebagai pahlawan dalam hidupnya.

Kisah-kisah yang menyentuh itu mengingatkan saya pada bapak di rumah. Sikap dan kata-katanya yang tegas dan keras, tak akan bisa menutupi kelembutan dan kebaikan hatinya :). Waktu kecil saking khawatirnya dengan putri manjanya yang satu ini, dalam beberapa hal saya selalu dilarang melakukan ini-itu, apa pun diprotek termasuk masalah pertemanan. Karena pengekangan itu saya jadi “pemberontak cilik” yang diam-diam melanggar larangan-larangan tak tertulis dari kebijakan sang Kepala Keluarga, tapi ujung-ujungnya selalu ketahuan juga sih dan saya pun selalu mendapat hukuman. Hukuman yang saya dapatkan masih tergolong level tiga—dari sepuluh level—dibandingkan dengan saudara saya yang dijeburkan ke dalam bak besar berisi ikan lele yang siap mematil kapan saja oleh ibunya gara-gara sama-sama tidak mau mengaji :D.

Menginjak bangku SMP, bapak akhirnya mengajarkan kebebasan dan kemandirian dengan mengirimkan saya ke pesantren. Ia ingin menanamkan pemahaman tentang agama Islam sebagai pondasi yang kuat sebelum memberikan saya kebebasan, agar saya tidak menggunakan kebebasan dengan seenaknya. Dan sikap bapak yang saya pikir terlalu mengekang, pada akhirnya saya sadari sebagai pertahanan dan perlindungan terhadap putrinya yang katanya kelewat lugu ini, hoho...

Meskipun begitu tidak selamanya keinginan saya selalu sejalan dengan keinginan bapak. Sikap keras bapak yang menurun pada saya membuat kami sering berdebat dan saling tak mau mengalah, termasuk saat saya memilih organisasi di kampus. Bapak menginginkan saya masuk ke organisasi-organisasi yang berbau politik, kalau tidak ya minimal semipolitik. Sedangkan saya memilih masuk organisasi yang sesuai dengan cita-cita saya sebagai wartawan. Perasaan berat hati karena tidak bisa mengikuti keinginan bapak, saya tuangkan ke dalam puisi:

Wajar saja memang jika bapak bersikap seperti itu, karena sebagai anak pertama, bapak menaruh banyak harapan kepada saya. Dan meskipun bertentangan, saya tetap meyakini apa yang dilakukan bapak semata-mata hanya untuk memberikan yang terbaik buat putrinya ini.

Pada tanggal 7 Juli 2010 saya menulis status di facebook seperti ini:

Bapak saya mengomentari:


Sampai sekarang saya masih memikirkan tentang perasaan bapak, karena pada akhirnya saya benar-benar pergi. Mungkin karena saya perempuan, bapak menginginkan saya tinggal tidak jauh dari rumah sehingga tetap bisa dipantau. Tapi saya tahu beliau melepaskan saya dengan sedikit kebanggaan, bukan dengan perasaan kecewa. Dan saya pun bertekad tidak akan pernah mengecewakan beliau, ya meskipun kita tetap sering bertentangan :D :D :D.


Setiap ayah diam-diam selalu menginginkan putranya berhasil. 
Kukira itulah sebabnya George Herbert menulis, 
“Satu ayah lebih dari seratus guru.”
_The Lessons_

(AKLmn, 11 Juni 2012)

Kamis, 07 Juni 2012

Aku Pernah Punya Cita-cita Hidup Jadi Petani Kecil

"Aku pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil.
Tinggal di rumah desa dengan sawah di sekelilingku.
Luas kebunku sehalaman kan kutanami buah dan sayuran.
Dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam  peliharaan.
Aku pasti akan hidup tenang jauh dari bising kota yang kering dan kejam.
Aku akan turun berkebun mengerjakan sawah dan ladangku sendiri.
Dan menuai padi yang kuning emas dengan istri dan anakku"
_Ebiet G. Ade_ 


Lagu “Cita-cita Kecil si Anak Desa” dari Ebiet G. Ade ini mengingatkan saya pada mimpi-mimpi kecil saya dulu. Waktu SMA saya sangat kecanduan main "Harvest Moon". Kalau libur sekolah, dari pagi sampai kembali pagi lagi saya sanggup bermain game ini. Segala hal yang ada di game ini begitu amazing buat saya. Mengingatkan saya akan masa-masa kecil saya dulu. Saya jadi terobsesi ingin hidup di tempat yang mirip dengan game ini. Rumah di daerah pegunungan, dikelilingi pohon-pohon, sawah-sawah, kebun-kebun, pantai, hewan-hewan peliharaan, dan tetangga-tetangga yang begitu baik. Bebas dari kebisingan dan polusi kota.

Kamis, 31 Mei 2012

Pelajaran Hidup dari Semut

Foto karya Andrey Pavlov




Foto karya Andrey Pavlov


Pernah lihat foto-foto karya Andrey Pavlov yang bertema “The fantasy world of ants” di situs Yahoo??? Di sana terlihat foto-foto semut yang begitu kuat mengangkat ranting seorang diri, bekerja sama mengangkat tomat, dan sedang menolong sesamanya. Begitu banyak pelajaran tentang hidup yang bisa kita contoh dari makhluk mungil ini. Hingga Al-Qur’an pun memuliakan makhluk ini di dalam salah satu suratnya yang bernama An-Naml yang berarti semut. 

Dalam surat An-Naml ayat 23 disebutkan: "Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari." (QS. An-Naml, 23: 18). Dari ayat tersebut dapat dipahami tentang adanya sistem komunikasi yang baik di antara semut yang terbiasa hidup bermasyarakat dan berkelompok itu.